Sunday, May 19, 2019

MONEY, POWER AND IDEOLOGY: Political Parties in Indonesia


Konsep-konsep kunci dalam tulisan
Indonesia telah mengalami perubahan politik yang luar biasa sejak rezim Soeharto jatuh pada tahun 1998.
Selama era orde baru yang terjadi adalah adanya struktur pemerintah yang terinstitusionalisasi kedalam partai politik dengan system multi partai yang kekuasaan tertingginya berada ditangan Suharto.[1]
Paige Johnson Tan (2006) menggambarkan sistem kepartaian Indonesia sebagai dalam proses deinstitutionalisasi, dia memprediksi bahwa partai akan cenderung melemah dalam cara yang tidak jelas saat ini.
Gejala kartelisasi menjadi perhatian di kalangan kritikus Indonesia dan publik. Beberapa surat kabar Indonesia juga telah mengeluarkan kritik pedas pada perilaku korupsi, kemalasan berpolitik, dan ketidakpedulian terhadap kebutuhan masyarakat memperparah situasi.
Jika melakuakan analisis terhadap partai politik pasca Soeharto Indonesia maka akan mendapati dua pertanyaan konseptual. Pertama, Indonesia benar-benar terjadi  disfungsi politik diantaranya banyak literatur menyarankan bahwa dukungan warga dalam demokrasi tetap kuat dan pemerintahannya cukup solid. Dengan kata lain, partai politik di Indonesia dapat dikatakan memiliki reputasi yang cukup buruk, terjadi konsolidasi sistem demokrasi dimana ada pihak-pihak yang mencoba menguasai pucuk tingkatan tertinggi perpolitikan di negara. Kedua, jika memang Indonesia menunjukkan sikap yang kurang serius, sampai sejauh mana tren diranah regional atau global dalam partai politik. Jika pihak yang lemah malah dilembagakan kemudian hasil dari perkembangan partai di Indonesian hanya cocok dengan pola yang telah banyak dibahas dari konsep partai politik yang dangkal dan terlalu personalistik seperti di Asia Timur. Sejalan dengan hal itu, pihak di Indonesia telah berubah menjadi organisasi yang elektoralis yang bermuara pada elit tertentu. Ini menjadi masalah Indonesia dan tidak mencerminkan fakta bahwa ada pihak yang diuntungkan didalam negara demokrasi yang relatif masih baru ini sebagian besar dapat dikatakan telah melompati fase dimana pihak massa telah diajarkan oleh kasus politik di dunia Barat. Dan pada akhirnya jika pihak Indonesia semakin tergantung pada negara dan mencoba untuk susu sumber daya dengan membentuk kartel, bahwa akan mengejutkan untuk penulis komparatif seperti Katz dan Mair yang bahkan melihat demokrasi konsolidasi Barat di cakar dari pihak cartelized. Singkatnya apa tentang politik partai Indonesia secara intrinsik Indonesia dan apa adalah refleksi dari keadaan partai politik di seluruh dunia.
Argumen utama tulisan
Beberapa argumen yang dapat dicermati yaitu (Diamond 2010, Barany 2012, Kunkler Dan Stepan 2013) hal yang paling penting, angkatan bersenjata, yang telah menjadi aktor politik yang penting setidaknya sejak tahun 1950, angkatan bersenjata pula kehilangan sebagian besar keistimewaan kelembagaan mereka dan tidak lagi menjadi aktor veto. (Sukma 2009) berpendapat pada tahun 2009 Indonesia menyaksikan pemilihan secara demokratis pertama dari presiden duduk menunjuk ke konsolidasi politik pasca otoriter. Setelah pemilu yang kurang demokratis berlangsung dan ada perbaikan sistem pemilu terutama presiden.
(Asap, Gomez, dan Peterson 2006; Erb dan Sulistyanto 2009) menggambarkan institutionalisasi, negara Indonesia berubah dari salah satu sistem yang paling terpusat/ sentralistis ke dalam rezim federal di mana warga negara memiliki suara langsung untuk memilih kepala pemerintah daerahnya.
(Diamond dan Morlino 2004) hanya 25 negara demokrasi mapan di North Eropa Barat, Amerika Utara dan Oseania diklasifikasikan sebagai "demokrasi penuh," sebuah istilah yang sesuai dengan kategori "demokrasi liberal" banyak digunakan dalam perdebatan ilmu politik.
(Greenlees dan Garran 2002; Aspinall 2009) Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia mengizinkan Timor Timur untuk memisahkan diri melalui referendum dan menawarkan pemberontak Aceh yang kapri kesepakatan banyak dipuji.
Dan Slater menyebut sebagai " perangkap akuntabilitas:" dimana pihak tidak lagi mengontrol satu sama lain dan juga pemerintah, oposisi tidak lagi ada atau hanya menjadi seremonial saja, dan pemilih tidak lagi memiliki pilihan yang nyata di kotak suara. Dan Slater dan Kuskridho Ambardi telah menunjukkan fakta bahwa semua tindakan Suharto didalam proses pemerintahan disebut sebagai "koalisi pelangi," yaitu, aliansi presiden besar yang mencakup lebih banyak pihak yang kemudian membangun kelompok mayoritas ditubuh legislatif.

Pemetaan pemikiran dalam tulisan
No
Nama
Pemikiran
1
Diamond, Barany, Kunkler dan Stepan
Aktor politik adalah militer/ angkatan bersenjata
2
Dan Slater
Adanya jebakan akuntabilitas dan koalisi pelangi didalam sistem kepartaian
3
Paige
Deintitusionalisasi system kepartaian
4
Mietzner
Adanya kartelisasi dan institusionalisasi didalam partai politik



Argumen utama untuk memahami politik indonesia
Indonesia diera kepemimpinan Suharto memiliki sistem kepartaian yang unik dimana pemilu 1999 ada 141 partai politik yang mendaftar untuk turut serta dalam ajang 5 tahunan tersebut. Tetapi faktanya hanya 48 partai politik yang berhak mengikuti pemilu. Kartelisasi dan institusionalisasi menjadi dua hal yang muncul didalam dinamika kepartaian di Indonesia pasca orde baru. Kartelisasi partai politik menjadikan dikotomi antara partai yang berbasis Negara dan partai yang berbasis masyarakat. Kedua basis tersebut diinternalnyapun terjadi gejolak dan muncul kompetisi antar anggota untuk memperoleh kekuasaan dan membuat kelompok kecil.
Insititusionalisasi sendiri merupakan bentuk system kepartaian yang sudah kuat secara kelembagaan dan memiliki basis organisasi yang cukup kuat ditingkat bawah.
Isu korupsi ditubuh partai politik sudah menggejala setelah orde baru dan semakin berkembang secara institusional tindakan-tindakan menguntungkan pribadi dan kelompoknya menjadi hal yang sangat mencederai demokrasi. Tidak hanya merugikan Negara tetapi juga merusak tatanan politik di Indonesia, seperti bakteri yang terus menggerogoti tubuh partai dan akhirnya hancur.

Daftar Pustaka
Maribeth Erb, Priyambudi Sulistiyanto and Carole Faucher, Regionalism in Post-Suharto Indonesia, RoutledgeCurzon, New York, 2005


[1] Maribeth Erb, Priyambudi Sulistiyanto and Carole Faucher, Regionalism in Post-Suharto Indonesia, RoutledgeCurzon, New York, 2005

No comments:

Post a Comment