Konsep-konsep kunci dalam tulisan
Jika melihat pada konsepnya,
sesungguhnya refleksi teoritis diantara pengamat studi Indonesia
dalam konsep representasi, kompetisi, kekuasaan dan ketidakmeratan sudah cukup banyak membuahkan karya yang fenomenal. Kemudian
Transisi
demokrasi di Indonesia tidak menyebabkan demokratisasi politik menjadi
demokrasi liberal seperti yang dibayangkan oleh teori demokrasi luar. Analisis inti untuk melihat Indonesia menggunakan
kerangka kerja oligarki bahwa demokratisasi telah merubah bentuk perpolitikan
Indonesia tanpa mengeliminasi aturan oligarki. Era orde baru yang menjadi fokus studi ini mencoba
untuk mengetahui lebih dalam proses demokratisasi yang terjadi di Indonesia
yang kemudian memunculkan kesimpulan OLIGARKI.
Argumen utama tulisan
Ada beberapa argumen yang cukup relevan untuk
menjelaskan fenomena demokrasi era orde baru:
1. Winters,
Robisn dan Hadiz menerima/ sependapat bahwa struktur formal demokrasi pemilihan
dapat sejalan dengan aturan oligarki, lebih sering ditemukan keberadaan
demokrasi dalam istilah minimalis atau prosedural.
2. Hadiz
dan Robison mengamati bahwa oligarki dan demokrasi prosedural adalah cocok, dan
menemukan makna pemilihan telah merubah perilaku dari oligarki.
3. Kedua
analisis tersebut meyakini bahwa demokrasi memiliki efek yang nyata pada aturan
oligarki, tetapi menafikannya ini mengartikan bahwa oligarki mengurangi
kompetisi dalam pemilihan.
4. Merujuk
pada Winters, Robison dan Hadiz perubahan politik diperlukan untuk mengacaukan
ikatan antara kekayaan/
kesejahteraan dan politik di Indonesia nyatanya tidak kurang dari
sebuah revolusi.
5. Pendekatan
dari Robison dan Hadiz dalam mereorganisasi kekuasaan dan hubungan kerja telah
menemukan banyak penafsiran dalam perpolitikan Indonesia sejak jatuhnya orde
baru.
6. Robison
dan Hadiz menggambarkan oligarki sebagai sebuah sistem dari relasi kekuasaan
yang mengkonsentrasikan pada
kekayaan/ kesejahteraan
dan kewenangan dan pertahanan kolektifnya.
7. Aspinall mengatakan disorganisasi fragmentasi dari kelas
pekerja Indonesia dan kekuatan lawan
lainnya.
8.
Pepinski
mengkritik tradisi pluralis menawarkan keranjang konseptual yang memungkinkan
kita melampaui klaim yang dibuat tentang persimpangan kekayaan/ kesejahteraan
dan kekuasaan materi oleh para pendukung tesis oligarki terhadap konsekuensi biasa
untuk pembuatan kebijakan.
9.
Marcus
Mietzner mengambil contoh kritik pluralis oligarki dalam diskusi partai
politik. Pertama, ia pusat perbedaan antara oligarki dan elit politik, dan
dibedakan beberapa jenis oligar. Mereka sebagai aktor yang utama memiliki
sumber daya adalah milik pribadi dan langsung dalam jumlah modal yang besar.
10. Teri Caraway dan Michael Ford berdebat dalam
penelitian yang lebih dekat, mereka berpendapat keterlibatan serikat buruh di
ranah politik adalah pendukung tesis oligarki dan meremehkan potensi gerakan
buruh Indonesia dengan kekuatan mobilisasi yang laten.
11. Michael Buehler berpendapat bahwa cara terbaik untuk
memahami politik Indonesia adalah melalui analisis kompetisi elit dengan pendekatan,
menurutnya terlepas dari kelemahan tidak hanya dari kerangka oligarki tetapi
alternatif yang disajikan dalam bab-bab lain menjelaskan argument ini.
12. Musim
dingin politik pertahanan kekayaan antara aktor material diberkahi. Tetapi Robison
Dan Hadiz yang jelas neo marxis di posisi mereka dari konsep dalam pembangunan kapitalisme global,
penekanan Winter lebih jauh
peduli pada peran
kecerdasan dan lokus paksaan dalam politik pertahanan dan kekayaan atau dengan kata lain kesejahteraan, sedangkan kedua
Robison dan Hadiz dan Winters pemahaman
konsep
yang berbeda
daripada analis dari oligarki, dominasi elit, dan fase terkait yang bekerja dalam
tradisi elit kekuasaan, dia
juga memahami cukup berbeda satu sama lain.
13. Robison
dan Hadiz berpendapat bahwa oligarki di Indonesia adalah kondisi kapitalisme
akhir pinggiran. Diskusi sejarah mereka mengungkapkan bahwa itu juga merupakan
perkembangan yang relatif baru, periode
ke periode baru diakhir
orde baru:
..hubungan
antara otoritas negara dan kaum borjuis di Indonesia berubah bentuk bentuk
Bonaparte di awal era Soeharto ke salah satu yang mengambil bentuk oligarki di
masa orde baru nanti. Ini adalah negara yang pernah menjadi milik pejabat
sendiri dan bertindak untuk melestarikan underpinninggs sendiri kelembagaan dan
atas nama kepentingan kapitalis besar. Keadaan seperti itu berubah ke salah
satu yang didefinisikan
dengan
meningkatkan kekayaan dan kekuasaan politik-birokrasi, diartikulasikan dalam
hubungan dan reaksi
antara keluarga pebisnis
terkemuka dan orang-orang politik dan birokrasi saat mereka menjadi satu
langsung pada
kepemilikan dan kontrol modal.[1]
Pemetaan pemikiran dalam tulisan
|
No
|
Pengamat
|
Argumen tentang Indonesia
|
|
1
|
Winters
|
Lebih cocok dikatakan oligarki, dominasi elit
|
|
2
|
Hadiz
|
Lebih cocok dikatakan oligarki, kapitalisme, dominasi elit
|
|
3
|
Robison
|
Lebih cocok dikatakan oligarki, kapitalisme, dominasi elit
|
|
4
|
Papinski
|
Lebih cenderung pluralisme oligarki dengan tradisi pluralis
|
|
5
|
Ford
|
Muncul gerakan buruh sebagai mobilisasi kekuasaan yang laten
|
|
6
|
Aspinall
|
Muncul outsiders dalam elit birokrasi dan politik
|
Argumen utama untuk memahami
politik indonesia
Dari beberapa pendapat yang dikeluarkan oleh para
pengamat Indonesia dapat disimpulkan bahwa dimasa orde baru kepemimpinan
otoriter Soeharto tidak serta merta melahirkan proses demokratisasi yang
sesungguhnya dimana kedaulatan yang tertinggi berada ditangan rakyat. Tetapi
yang terjadi adalah oligarki dimana sekelompok orang menguasai sumber daya yang
menciptakan penghalang pada demokrasi yang sebenarnya/ makna demokrasi. Studi
yang dilakukan pasca reformasi atau setelah berakhirnya masa kepemimpinan
Soeharto oleh para pengamat Indonesia tersebut juga menceritakan adanya peran
elit baik politik maupun birokrasi yang melakukan penguasaan terhadap
sumberdaya yang menjadikan ketidakmerataan dimana sumberdaya berkonsentrasi
pada kelompok elit yang membuat kesejahteraan menjadi timpang dan banyak
terjadi kesewenang-wenangan oleh elit yang berkuasa.
No comments:
Post a Comment