Ringkasan
Kritik politik budaya
pendekatan
Politik kebudayaan untuk menganalisis daya dan konflik di orde baru Indonesia terletak
pada dua proposisi utama:
a.
Bahwa sifat rezim orde baru dapat dijelaskan dasarnya dalam hal kegigihan
perspektif budaya Jawa yang membentuk perilaku politik para pejabat;
b.
Bahwa identitas dan struktur kelompok politik dan sifat relasi politik, yakni
dengan vertikal, personalisasi struktur patron-klien.
Konflik politik:
patron-klien dan kelas
Kecenderungan
identitas politik dan organisasi di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan pola
vertikal yaitu struktur patron-klien dan konflik terjadi antara jaringan yang
saling bersaing dan telah digambarkan dengan baik.
Hubungan
khusus antara bentuk-bentuk politik (kelas atau patronase) dan kekuatan dan
hubungan produksi juga harus diselidiki. Saya berniat untuk berdebat mengenai:
1.
Bahwa bentuk-bentuk politik klien-patron tidak menunjukkan tidak adanya kelas,
tetapi merupakan salah satu bentuk dimana hubungan kelas bekerja dan mencari
akomodasi politik dan ekonomi.
2.
Bahwa politik patron-klien dalam masyarakat pedesaan menjadi politik kelas
ketika salah satu pemilik tanah mengamankan sarana ekonomi untuk lari dari
hubungan patronase atau ketika para petani mengamankan sarana politik untuk
melakukannya.
3.
Struktur patron-klien yang paling kompatibel dengan formasi sosial didominasi
oleh produksi pertanian, di mana sewa merupakan bentuk dasar dari hubungan
sosial produksi dan pola kepemilikan tanah
telah menghasilkan kelas pemilik tanah; mereka cenderung hancur dengan perpanjangan hubungan
produksi kapitalis.
Hubungan sosial
produksi, struktur ekonomi, dan bentuk-bentuk politik
Salah
satu ciri dari kekuasaan politik di pasca
kolonial Indonesia telah bahwa kantor otoritas dalam
partai politik dan birokrasi sipil dan militer umumnya telah dimonopoli oleh
kelompok-kelompok yang relatif kecil.
Ringkasan berikut ini
menunjukkan fitur-fitur utama dari struktur kelas yang diwarisi dari masa
kolonial.
1.
Ada dugaan yang cukup mengenai sejauh mana kepemilikan pribadi atas tanah di
precolonial Jawa, sejauh mana masyarakat pertanian pra kolonial Jawa beralasan
atas sebuah feodal dengan
modus produksi Asiatic, dan dampak dari kolonialisme Belanda pada pola
kepemilikan tanah.
2.
Ekonomi kolonial Indonesia mengambil tiga bentuk: sektor subsisten pertanian,
sektor produksi komoditas kecil, dan sektor kapitalis yang berupa produksi
komoditas dan ekspor tanaman seperti karet, gula, kopi, dan, semakin dari
minyak dan mineral.
3.
Partisipasi pedagang pribumi
dan produsen dalam ekonomi kapitalis kolonial terbatas peran kecil dalam
perdagangan dalam negeri (terutama di Sumatera dan pulau terluar) dan produksi
komoditas kecil tekstil, batik, bahan makanan, dan rokok kretek di Jawa
Analisis dari Karya
Richard
Robison
Pendekatan yang digunakan
adalah Strukturalis
Melihat pada kalimat:
“Kecenderungan
identitas politik dan organisasi di Indonesia, khususnya di Jawa, dengan pola
vertikal yaitu struktur patron-klien dan konflik terjadi antara jaringan yang
saling bersaing dan telah digambarkan dengan baik.”
Gagasan
kekuasaan Goverde yang muncul:
- Kekuasaan
seseorang atas orang lain
- Kekuasaan yang
menempel pada struktur dan biasanya tersembunyi
- Kekuasaan yang
terkait dengan relasi orang berkuasa dengan yang tak memiliki kekuasaan
Unit analisis yang
muncul adalah
individu/ kolektif:
a.
Patron: pemerintah
kolonial, pemerintah orde lama, pemerintah orde baru, elit (politik, ekonomi,
pemilik modal, pemilik tanah)
b.
Client: kaum bawah,
petani, masyarakat
Hal yang menarik
1. Era
kolonial: hubungan patron-client yang terjadi antara pemilik
tanah dengan petani.
- Era
orde lama: hubungan patron-client
yang terjadi antara pemerintah, partai politik seperti PSI, PNI, Masyumi
dimana elit politik berperan.
- Era
orde baru: hubungan patron-client
antara pemerintah, kaum teknokrat, militer dan pemilik modal dengan
masyarakat.
No comments:
Post a Comment