Sunday, May 19, 2019

A POLICY SCIENCE VIEW ON POLICY ANALYSIS


Pengantar
Jika berbicara tentang kebijakan maka tidak akan terlepas dengan analisis. Ilmu kebijakan sudah banyak dipelajari oleh para sarjana untuk mengetahui fenomena social dari sudut pandang Negara. Kebijakan yang dilihat adalah suatu proses yang panjang dan selalu berputar. Untuk mengamati lebih dalam suatu proses kebijakan tersebut dibutuhkan analisis yang tepat. Analisis kebijakan dimaksudkan untuk memetakan bentuk, model, cara dan sistematika dalam kebijakan untuk kemudian diuraikan satu persatu untuk didapatkan satu kepaduan. Studi dari Enserink, Koppenjan dan Mayer mencoba memetakan model pembuatan kebijakan yaitu: rational decisionmaking, political game, discourse, garbage can, dan institutional process.
Ringkasan
Intisari abstraksi seperti kebijakan publik dan analisis kebijakan mudah melarikan diri persepsi manusia. Untuk memberi makna gagasan tersebut, kita membangun dan menggunakan frame, yang dalam ilmu kebijakan sering disebut model konseptual atau kadang-kadang paradigma kebijakan, lensa atau sistem kepercayaan (Rein dan Schon 1986, 1993, 1994; Kuhn 1970; Allison 1971; Sabatier 1987 ; Balai 1993). Melalui model konseptual, kita memahami ambiguitas dan superimpose struktur dan logika dalam pengakuan konstan bahwa model konseptual itu cukup terbatas dan harus di bawah pengawasan konstan dan tunduk pada revisi.
Model Kebijakan:
1.     Rasional pengambilan keputusan: rasional, keputusan cerdas berdasarkan informasi sinoptik. Berkembang dalam beberapa langkah kronologis beberapa atau fase. Konteks kelembagaan ditutup, unicentric, hirarkis dan berwibawa. Implikasi memproduksi pengetahuan untuk mendukung keputusan dalam fase kebijakan.
2.     Permainan politik: kompromi politik antara para pemangku kepentingan otonom dan adanya saling ketergantungn. Bermain kekuasaan atau permainan tawar menawar antara para pemangku kepentingan. Konteks kelembagaan yang pluricentric, diaman arena antarorganisasi dengan akses yang terbatas. Implikasi untuk berbicara kebenaran berkuasa, memproduksi pengetahuan dan wibawa, rasionalisasi proses kebijakan dan meningkatkan kompromi bukti berdasarkan.
3.     Wacana: dibangun dan berbagi makna dalam debat kebijakan. Proses pembelajaran interaktif dan pertukaran argumen dan makna. Konteks kelembagaan jumlah koalisi advokasi dan masyarakat kebijakan dengan sistem kepercayaan yang berbeda atau paradigma. Implikasinya adalah mengatasi perdebatan asimetris, memajukan bingkai refleksi, dan belajar di koalisi kebijakan.
4.     Sampah dapat: kopling masalah, solusi, politik / participnts pada saat yang tepat (window opportunity). Menentu dan tidak stabil itu berlangsung dengan cocok dan mulai. Konteks kelembagaan yang terfragmentasi dengan banyak aktor dan jaringan ad-hoc dengan stabilitas sedikit. Implikasinya mendukung kegiatan pembuatan kebijakan dalam sungai dan tindakan kewirausahaan untuk mewujudkan jendela kebijakan, meningkatkan realisasi kombinasi solusi masalah yang baik.
5.     Proses Kelembagaan: reproduksi solusi sebelumnya, dibentuk dan dibatasi oleh norma-norma, budaya dan aturan. Interaksi diulang berdasarkan kelembagaan norma, kognisi, budaya dan rutinitas. Konteks kelembagaan jaringan dengan berbagai tingkat stabilitas dan bersarang di lingkungan kelembagaan yang lebih besar. Implikasi sedang melakukan analisis kelembagaan untuk mengatasi rutinitas disfungsional dan hambatan kelembagaan untuk pemecahan masalah yang tidak terpisahkan, mendukung pembangunan kapasitas untuk di bawah pemangku kepentingan yang terwakili, meninjau dan meningkatkan  kelembagaan analisis kebijakan.
Kritik
Berbeda dengan Bert Enserink, Joop F. M. Koppenjan dan Igor S. Mayer, Budi Winarno mencoba memetakan model pembuatan kebijakan kedalam lima model yaitu: rasional komprehensif, kepuasan, incremental, pengamatan campuran, dan kualitatif optimal.[1]
1.     Model rasional komprehensif jika dibandingkan dengan rational decesionmaking maka akan ditemukan perbedaan pada intended goal atau pencapaian tujuan yang seperti apa yang diinginkan?
2.     Model kepuasan berbeda dengan political game yang lebih memfokuskan pada aktivitas politik pemangku kepentingan, model kepuasan lebih menitik beratkan pada tingkat kepuasan pembuat kebijakan pada pilihan-pilihan alternatif.
3.     Model incremental lebih cenderung pada penyesuaian realitas kehidupan yang plural dan demokratis.
4.     Model pengamatan campuran lebih mengedepankan perhitungan keputusan-keputusan pokok dan incremental.
5.     Model kualitatif optimal ini lebih menekankan pada konfigurasi kelemahan dan kekuatan suatu kebijakan yang akan dibuat.
Kesimpulan
Ada dua model pembuatan yang penulis coba bandingkan dan pada akhirnya sebuah kritik pembanding adalah yang paling cocok untuk dilakukan. Tidak ada model pembuatan kebijakan yang sempurna, masing-masing ahli memiliki konsep tersendiri yang ditawarkan untuk dijadikan dasar teoritis. Tetapi yang menarik dari model pembuatan kebijakan adalah siapa saja yang terlibat dan juga bagaimana cara kerjanya. Semua dari model yang telah disajikan pada akhirnya menjadi penentu pembuat kebijakan berpikir dan memilih mana yang paling tepat untuk digunakan dalam mengatasi dinamika social yang sedang terjadi utnuk dihasilkan suatu kebijakan yang berkualitas.


[1] Budi Winarno, Kebijakan Publik (Teori, Proses dan Studi Kasus), CAPS, Yogyakarta, 2014 halaman 103-121

No comments:

Post a Comment