Sunday, May 19, 2019

MEMBANGUN DESA SARIHARJO MELALUI DEMOKRASI DAN KESEJAHTERAAN


Latar Belakang
Demokrasi dan kesejahteraan menjadi acuan dibanyak negara berkembang, seperti di Indonesia yang terus memperjuangkan demokratisasi dan juga kesejahteraan yang adil dan merata. Perjuangan itu bukanlah urusan negara saja melainkan juga urusan swasta dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan. Dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk dapat mencapai demokrasi dan kesejahteraan yang diharapkan. Menurut Seymour Lipset dalam buku Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Political Legitimacy (1959:71) bahwa two principal complex characteristics of social system will be considered here as they bear on the problem of stable democracy: economic development and legitimacy. Dapat dikatakan masalah yang terjadi disuatu negara adalah stabilitas demokrasi yang dipengaruhi oleh pembangunan ekonomi atau dapat dikatakan kesejahteraannya dan juga tingkat legitimasi dari aktor negara. Tatu Van Hanen mengingatkan perlunya redistribusi sumber daya dalam pembangunan ekonomi dan demokrasi disuatu Negara bahwa Politics is for us a species-specific way to compete for scarce resources and to distribute them among the members of a society. The permanent scarcity of some important resources and the need to distribute them by some means explain the necessity of politics.[1]
Desa sebagai miniatur negara, sering menjadi obyek kajian demokrasi dan kesejahteraan. Dimasa kolonial, desa sering dimanfaatkan sumberdayanya oleh penjajah Belanda untuk dieksploitasi baik tanah dan hasil pertaniannya maupun juga tenaga manusianya. Hubungan ini sering disebut Patron-Client dimana penguasa/ tuan tanah menguasai sumber produksi yang ada didesa dan petani bekerja untuk mereka.
Sekarang diera reformasi ini desa tidak lagi menjadi sumber eksploitasi, bahkan pemerintah melalui UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa berharap agar desa dapat berdaya dan menjadi salah satu penopang perekonomian negara. Desa sudah berperan penting dalam demokratisasi dan kesejahteraan Indonesia. Bagaimana cara melihatnya?
Demokrasi di desa dapat dilihat secara prosedural (politik dan sipil) yaitu melalui saluran-saluran yang demokratis seperti pemilihan kepala dan perangkat desa, musyawarah desa, musyawarah perencanaan pembangunan desa, partisipasi masyarakat desa dalam perencanaan APBDes maupun RPJMDes. Kemudian dilihat secara substansial (ekonomi, sosial dan budaya) yaitu melalui saluran kegiatan yang membangun perekonomian desa, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya lokal dan lain sebagainya. Desa yang menarik untuk dilihat dalam penelitian ini adalah Desa Sariharjo. Desa ini berada dipinggir Kota Sleman dan masih banyak ditemukan penduduk yang bermata pencaharian dibidang pertanian dan juga peternakan. Desa Sariharjo saat ini sudah beralih menjadi salah satu desa yang  demokratis dan sejahtera tetapi masih ditemukan ketidakmerataan kesejahteraan dibeberapa dusun, alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian[2] juga menjadi faktor yang mempengaruhi kesejahteraan warga desa . Secara kasat mata masih dapat dilihat dominasi kapitalisme yang memegang peranan didalam perekonomian desa. Proses demokrasinyapun masih nampak adanya hubungan patron-client yang menjadi penghambat demokratisasi didesa.
Rumusan Masalah
Apasajakah kendala dalam penerapan demokrasi dan kesejahteraan di Desa Sariharjo?
Pembahasan
Pada bagian pembahasan ini penulis ingin membicaran mengenai masalah pokok yang terjadi didesa dalam hal penerapan demokrasi dan kesejahteraan khususnya di Desa Sariharjo. Masalah yang juga menjangkit dibeberapa negara berkembang atau dapat disebut dengan Global South ini menjadi perhatian serius para pemerhati demokrasi dan juga pembangunan ekonomi. Masalah seperti hubungan Patron-Client dan juga Capitalism menjadi wabah yang telah menjangkit hingga kepelosok desa.
Hubungan Patron-Klien
Adanya patronase yang menjadi penentu proses pemerintahan didesa bahkan sudah menjadi tradisi didesa bahwa tokoh/ elit desa memegang peran kunci mau dibawa kearah mana  desa tergantung mobilisasi elit ditengah masyarakatnya.
Modernisasi dan pembangunan ekonomi membuat perubahan bagi desa, adanya peluang dan kesempatan lahirnya patron-patron baru ditingkat lokal, diantaranya ialah patron di luar desa (supra village patron).seiring dengan peningkatan produksi dan produktivitas pada era Revolusi Hijau, pembangunan juga menimbulkan implikasi buruk seperti meningkatnya pengangguran, kesenjangan dalam distribusi pendapatan, dan meluasnya kemiskinan di daerah pedesaan.[3]
Jadi dapat dikatakan adanya patronase berpengaruh pada tingkat kesejahteraan masyarakat didesa. Masyarakat sebagai client hanya bisa mengikuti pola relasi yang dilakukan oleh patron oleh karena itu pola hubungan ini cenderung negative dan berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat tetapi menguntungkan dari pihak patron.
Di desa sariharjo hubungan patron-Klient sudah mulai berubah, patron lokal tidak lagi sekuat dulu dan sekarang ada patron yang lebih mendominasi yaitu para pemilik modal/ investor yang menjalin relasi dengan masyarakat desa dengan cara jual beli tanah bahkan sampai ke alih fungsi lahan pertanian. Masyarakat desa tidak lagi banyak yang bekerja disektor pertanian tetapi sudah cukup banyak yang beralih ke sektor riil dengan mendirikan warung, kos-kosan dan perdagangan modern.[4]
Menurut Krisdiyatmiko (2015) Sekarang hubungan patron-client di desa sari harjo Nampak terjadi perubahan, tidak lagi peran patron dalam pemerintahan desa dan menggerakan warga masyarakat tetapi sudah bergeser ke pola relasi baru antara pemodal dengan pemilik tanah.[5] Dapat dikatakan demokrasi yang ada sekarang sudah beralih menjadi demokrasi pasar dimana segala sesuatu ditentukan oleh mekanisme pasar. Desa sariharjo sudah menjadi desa yang modern, dari sector politik dan pemerintahannya lebih banyak terjadi lobi dan perijinan pembangunan perumahan, pengurusan jual beli tanah dan perijinan pendirian pasar modern.
Kapitalisme
Pertumbuhan perekonomian didesa tidak terlepas dari peran actor ekonomi didalamnya yaitu pedagang kecil dan pedagang besar. Fenomena di Desa Sariharjo cukup unik, disatu dusun terdapat Indomaret sedangkan didusun lain tidak. Kemudian ada area rumah kantor yang cukup mewah dan besar disamping itu pula ada rumah kontrakan sederhana yang dijadikan kantor/ tempat usaha. Munculnya pemodal-pemodal besar yang mengambil alih sebagian besar pangsa pasar membuat eksistensi pedagang kecil semakin terancam.
Titok Haryanto Peneliti Institute for Research and Empowerment mengemukakan:
“Kapitalisme di desa saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, persaingan antara pasar tradisional dan pasar modern terjadi dimana-mana. Pemerintah desa maupun pemerintah daerah harus mampu memproteksi agar perekonomian kecil di desa tidak mati dan gulung tikar.”
Banyak pedagang kecil yang kemudian gulung tikar karena tidak kuat menghadapi persaingan usaha dengan pedagang besar. Sejalan dengan hal itu ada teori ekonomi yang dapat menjelaskan kenapa terjadi. Ada dua dimensi dalam ilmu ekonomi dan ekonomi kerakyatan yakni, pertama, sistem materialistis kita saat ini, di mana ‘standar kehidupan’ diukur dengan jumlah konsumsi tahunan, dan yang mencoba mencapai konsumsi maksimum bersama-sama dengan pola produksi optimal. Kedua, yang didasarkan atas pengertian ‘mata pencaharian yang benar’ yang tujuannya adalah mencapai kesejahteraan manusia yang maksimum dengan pola konsumsi yang optimal.[6]
            Alih fungsi lahan menjadi cara lain warga desa untuk mengubah lahan pertaniannya menjadi rumah toko, kos-kosan maupun dijual kepada developer untuk dibangun perumahan/ hotel. Kapitalisme sudah mengubah struktur social dan ekonomi masyarakat desa. Menurut Steiganga, ada tiga kelompok penggolongan tanah yaitu: nilai keuntungan, nilai kepentingan umum dan nilai social.[7]
Sejarawan Perancis Fernand Braudel, membagi perekonomian kedalam tiga sektor yaitu perekonomian subsisten, perekonomian pasar, dan kapitalisme.[8] Pertama perekonomian subsisten dapat dilihat dari produksi dan juga konsumsi barang/ produknya adalah untuk kehidupan sehari-hari saja. Kedua perekonomian pasar yaitu dimana produksinya skala kecil dan menengah yang orientasinya ke pasar. Ketiga kapitalisme memiliki kecenderungan pada produksi dan permodalan yang besar yang kemudian dijual ke pasar yang lebih besar dan luas.

Kesimpulan
Hubungan patron-client yang terjadi di desa sariharjo sudah mengalami pergeseran, tidak lagi berkutat pada hubungan klasik antara tokoh dengan pengikutnya atau petani dengan pemilik tanah. Tetapi saat ini yang terjadi adalah munculnya patron ekonomi yang memiliki modal yang besar dan mampu mengendalikan pola relasi dengan client melalui transaksi jual beli tanah dan alih fungsi lahan.
Dilain sisi, Kapitalisme membuat perubahan struktur social dan ekonomi yang cukup besar di desa sariharjo. Adanya pemodal yang ingin berinvestasi dan mengembangkan bisnisnya didesa berdampak pada kesejahteraan
           
Daftar Pustaka
Dr Budi Winarno, MA, Komparasi Organisasi Pedesaan dalam Pembangunan, Media Pressindo, Yogyakarta, 2003,
Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan, terj. M. Thoyibi, cetakan kelima, Bentang Budaya, Yogyakarta, 2000,
Kridiyatmiko, Ringkasan Disertasi: Dampak Sosial dan Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian Studi Kasus di Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, UGM, Yogyakarta, 2015
Kunio Yoshihara, Kapitalisme Semu Asia Tenggara, LP3SE, Jakarta, 1990
Seymour Martin Lipset, Some Social Requisites of Democracy: Economic Development and Political Legitimacy, American Political Science Association, 1959


[1] Van Hanen, Tatu, Prospect of Democracy: A Study of 172 Countries, New York, Routledge, 2004 Halaman 22
[2] Kridiyatmiko, Ringkasan Disertasi: Dampak Sosial dan Ekonomi Alih Fungsi Lahan Pertanian ke Non Pertanian Studi Kasus di Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, UGM, Yogyakarta, 2015
[3] Dr Budi Winarno, MA, Komparasi Organisasi Pedesaan dalam Pembangunan, Media Pressindo, Yogyakarta, 2003, halaman viii

[5] Hasil wawancara dengan Krisdiyatmiko, doktor sekolah pascasarjana program studi penyuluhan dan komunikasi pembangunan, 2015
[6] Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakata dan Kebangkitan Kebudayaan, terj. M. Thoyibi, cetakan kelima, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000, hlm. 256
[7] Steiganga, W. dalam Johara T. Jayadinata, Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan dan Perkotaan, Bandung, ITB, 1999, halaman 28
[8]Fernand Braudel Dalam Yoshihara Kunio, Kapitalisme Semu Asia Tenggara, LP3SE, Jakarta, 1990 halaman 13

No comments:

Post a Comment