Konsep-konsep kunci
dalam tulisan
1. Penyusunan
dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan oleh DPRD pun tergambar secara
meyakinkan sebagai bentuk persaingan kepentingan saling mempengaruhi antara
kelompok-kelompok bisnis dan criminal daripada mewakili kepentingan penduduk
local lebih luas.
2. Muncul
kesepakatan diantara sejumlah pengamat bahwa para “elit local” telah menjadi
penghalang utama bagi perbaikan ekonomi, politik, dan social Indonesia.
3. Orang
kuat local tumbuh berkembang subur setidak-tidaknya dibentuk sifat-sifat Negara
sama halnya dengan sifat dasar masyarakat. Elit-elit lokal mungkin bisa
disanggah kurang tradisional dan oligarki sedikit abadi dari yang seringkali
diduga selama ini.
4. Bos
adalah para pialang lokal yang memiliki posisi monopolistic abadi terhadap
koersif dan sumber-sumber ekonomi didaerah kekuasaan masing-masing.
5. Chao
po dapat dikenali lewat keanekaragaman dan sifat monopolistis kegiatan ekonomi
mereka dalam daerah kekuasaan yang ditetapkan dengan longgar dipandang dari
sisi akumulasi pemilik kekayaan (tanah pertanian, lahan yasan, pabrik
penggilingan, pusat pengolahan, pabrik-pabrik, saham dalam bank dan perusahaan industri).
Argumen utama tulisan
Pertama,
midgal memperdebatkan orang kuat lokal tumbuh subur didalam masyarakat “mirip
jaringan” yang digambarkan sebagai “sekumpulan campuran (mélange)
organisasi-organisasi social nyaris mandiri” dengan “control social” yang
efektif “terpecah-pecah”.
Kedua,
orang kuat lokal melakukan control social dengan menyertakan beberapa komponen
penting yang dinamakan “strategi bertahan hidup” penduduk setempat.
Ketiga
dan terakhir, Midgal mengemukakan bahwa berhasilnya orang kuat local
“menangkap” lembaga-lembaga dan sumber daya Negara merintangi atau menyetujui
upaya pemimpin Negara dalam melaksanakan pelbagai kebijakan.
Pemetaan pemikiran
dalam tulisan
|
No
|
Fenomena
Local Strongmen
|
||
|
Filipina
|
Thailand
|
Indonesia
|
|
|
1
|
Klientelisme
|
Chao po/ Bapak
pelindung/ Mafioso
|
Mafia lokal (krooni
Soeharto)
|
|
2
|
Oligarki
|
|
Jaringan (militer)
|
|
3
|
Negara lemah
|
|
Marga
|
|
4
|
|
|
Bos lokal (pasca
reformasi)
|
|
|
|
|
|
Argumen utama untuk
memahami politik indonesia
Menurut
John T Sidel, di Indonesia sendiri fenomena bosisme jauh berbeda dengan yang
ada di Filipina dan Thailand. Kecenderungan kekuasaan lokal di Indonesia berada
pada kekuasaan Soeharto mulai dari Tahun 1966 sampai dengan Tahun 1998.
Posisi
pejabat tinggi lokal ditingkat kabupaten dan provinsi berada pada kekuasaan
Departemen Dalam Negeri yang memiliki kepentingan untuk mengerdilkan kekuasaan
anggota-anggota majelis terpilih. Hirarki komando militer berjenjang adalah
cermin struktur pemerintah local. Perwira aktif maupun pensiunan diberikan
jabatan diparlemen dan eksekutif mulai dari DPRD, MPR sampai bupati dan
gubernur.
Pada
tahun 1980-an muncul mafia-mafia lokal yang berasal dari perwira militer
menengah-bawah yang masih berdinas kemudian pensiunan diberbagai provinsi
nusantara.
Pada
tahun 1999 dimasa transisi pasca jatuhnya rezim Soeharto, bos lokal mulai
tumbuh seiring diberlakukannya desentralisasi yang tadinya segala urusan
pemerintahan daerah dikendalikan oleh pemerintah pusat. Beralih kepada urusan
daerah menjadi kewenangan pemerintah setempat (Provinsi dan Kabupaten/ Kota).
No comments:
Post a Comment